Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Budaya Kuansing:Tradisi Turun Mandi Untuk Bayi Baru Lahir

Pangean adalah suatu kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Kuantan Singingi Propinsi Riau. Pada awal era otonomi daerah, Pangean merupakan sebuah kecamatan hasil pemekaran dari Kecamatan Kuantan Hilir. Seiring dengan perkembangan zaman dan perjalanan waktu Pangean menjadi kecamatan dianggap layak untuk menjadi sebuah kecamatan yang definitif dan berhak

menyelenggarakan pemerintahannya sendiri.

Satu hal yang tak bisa dipisahkan dengan Pangean adalah “Silat Pangean”. Silat pangean merupakan sebuah seni bela diri yang lahir dan dipopulerkan secara turun temurun oleh guru-guru besar silat pangean (yang biasa dikenal dengan Induak Barompek) zaman dahulu, seni beladiri yang dikenal dengan gerakannya yang lembut dan gemulai namun

menyimpan akibat yang mematikan ini telah tersohor keseantero pelosok negeri baik didalam maupun diluar Propinsi Riau. Hal ini menjadikan silat pangean menjadi sebuah seni beladiri yang sangat diminati untuk dipelajari oleh pemuda-pemuda yang berasal dari Pangean itu sendiri maupun yang berasal dari luar Pangean. Sebelum mendapatkan pelajaran pertama dari seni bela diri silat pangean ini terlebih dahulu calon murid harus mengikuti suatu seremoni yang biasa dikenal dengan “Maracik Limau”. Secara umum silat pangean dapat dikelompokkan atas 1. Silek Tangan (silat tangan kosong) 2. Silek Podang (silat dengan menggunakan senjata pedang) 3. Silek Parisai (silat yang menggunakan senjata pedang dan perisai)

Disamping itu Pangean juga dikenal dengan makanan tradisionalnya yang mengundang selera. Sebut saja Lopek luo dan Lopek jantan (semacam nagasari), Puluik kucuang (ketan yang dibungkus dengan daun pisang), Lomang (ketan yang dimasak didalam bambu), plus Cangkuak durian (durian yang diasamkan), Puti Mandi, dan Sarang Panyongek. serta banyak lagi makanan khas dari Pangean ini.

Tradisi turun mandi atau dalam bahasa lain disebut “bacungak” ini sudah menjadi sebuah tradisi yang turun temurun dan bahkan sudah ratusan tahun yang lalu yang dilakukan kepada bayi yang baru lahir. Tujuan dari turun mandi atau bacungak ini untuk “meresmikan” si bayi ini dan ibu bayi ini untuk bisa mandi ke sungai dan keluar rumah dengan “bebas” yang sebelumnya karena bayi masih kecil dan ibunya masih dalam proses pemulihan tidak diperbolehkan keluar rumah ataupun pergi mandi ke sungai.

Sebelum sang bayi ini dimandikan oleh dukun beranak (yang istilahnya dukun kampung) ada banyak hal yang mesti dipersiapkan dan diperhitungkan, pertama adalah hari pelaksanaanturun mandi, jika bayi laki-laki maka acara turun mandi dilaksanakan pada hari ganji yaitu hari Ke 9, 11, 13, 15 dan 17 dari hari kelahiran sang bayi dan jika bayinya perempuan maka hari turun mandinya adalah hari ke 6, 8, 10, 12, 14 dan 16. penentuan hari pelaksanaan tersebut tergantung kepada kesiapan dan tali pusat sang bayi sudah lepas.

bintang limau.jpg

bintang limau

Sehari sebelum pelaksanaan prosesi turun mandi tersebut hal-hal yang mesti dipersiapkan oleh tuan rumah (orang tua sang bayi) berupa Karambial Satali (2 buah kelapa yang belum dikupas kulitnya dan diambil sedikit kulitnya dan diikat satu sama lain), sakampial bore (beras yang dimasukkan kedalam kantong yang terbuat dari daun pandan kering), satu ekor ayam toge (maksudnya disini adalah bukan sejenis makanan, tetapi seekor ayam kampung yang beratnya sekitar 7-9 ons), limau mandi (buah jeruk purut yang direbus bersama dengan akar bunga siak-siak, sejenis bunga hutan yang mempunya akar yang wangi), katupek (ketupat yang terbuat dari beras pulut), satu buah cermin kecil, sisir, bedak dan minyak kelapa.

colakSetelah semua bahan dipersiapkan maka sang dukun bayi memulai prosesi turun mandi yang dimulai dengan memberikan/memasang colak (colak terbuat dari ramuan arang kayu dan jaring laba-laba yang berwarna hitam pekat) kepada bayi yang telah dia persiapkan sebelumnya dari rumah dengan menggunakan kuas bulu ayam, ini dipasang ke alis mata sang bayi dengan disertai mantera-mantera. Limau mandi, katupek, cermin kecil, sisir, bedak, minyak kelapa dimasukkan kedalam sebuah nampan besar yang biasa disebut talam, yang biasanya dikenal dengan sebutan bintang limau

mandi

Setelah itu sang bayi dan ibunya dibawa keluar rumah menuju sungai Batang Kuantan /tempat pemandian, sang dukun yang menggendong bayi tersebut menggunakan payung dan memegang parasopan (puntung kayu bakar) yang diiringi dengan rarak calempong, bayi ini terlebih dahulu dibawa bersilat di halaman rumah oleh sang dukun sebelum menuju sungai dan diringi dengan membawa bintang limau dan ayam toge.

diatas ayam

diatas ayam toge

Sesampainya di tepian sungai, sang dukun bayi memulai prosesi turun mandi ini dengan beragam cara dan makna yang luas, diantaranya adalah sebelum mandi ke sungai sang bayi ini dipasangkan colak yang terbuat dari ramuan arang kayu dan sarang laba-laba, sarang laba-laba mempunyai makna kelak sang bayi ini sudah dewasa ia akan sama seperti laba-laba yang rajin mencari nafkah, mendudukan bayi diatas ayam, ini melambangkan kendaraan bagi sang bayi kelak, artinya sang bayi ini jika sudah dewasa akan mencari nafkah, menghanyutkan bara kayu ke sungai mempunyai makna melepaskan segala beban ataupun masalah terhadap bayi ini, menghadapkan sang bayi ke cermin setelah dibedaki ini mempunyai makna kelak dia akan memperhatikan penampilannya (lai manggaya), setelah selesai mandi balimau, ketupat yang ada didalam bintang limau tadi diperebutkan oleh para penonton yang bermakna ketupat ini adalah pemberian/sedekah dari bayi kepada orang lain dan ada juga yang menyebutkan kalau kelak nanti setelah dewasa dia akan menjadi primadona / rebutan oleh wanita jika bayi laki-laki dan sebaliknya.

dalam ayunanSesampainya dirumah sang bayi dimasukkan kedalam ayunan yang terlebih dahulu dibuat dengan menggunakan kain sarung yang juga dibawahnya diletakkan parasopan (asap yang ditimbulkan oleh sabut kepala yang dibakar) dengan diiringi menbaca doa oleh dukun bayi. Setelah hitungan ayunan dinilai tepat oleh sang dukun maka sang bayi ini ditidurkan di tempat tidurnya, ini menandakan prosesi turun mandi bagi sang bayi telah selesai,

Acara selanjutnya adalah makan bersama, ibu bayi dan seluruh keluarga serta para undangan makan bersama, yang menarik disini adalah ibu sang bayi dipersilahkan untuk memilih makanan apa saja yang ia sukai, setelah diletakkan dipiring maka sang dukun bayi membacakan sesuatu dan sang ibu bayi boleh makan sepuasnya tanpa harus memperhatikan pantangan yang sebelumnya memang sangat ketat bagi ibu bayi ini, tapi jangan coba untuk makan semaunya jika belum ditawari oleh dukun bayi .

Jika acara turun mandi ini dilakukan dengan meriah, maka tak ketinggalan sisampek yang sebelumnya dibuat oleh bako dari keluarga bapak sang bayi ini diperebutkan, acara ini sangat dinanti-nanti oleh anak-anak dan pengunjung lainnya karena selain seru mereka memperebutkan makanan yang digantungkan di sisampek tersebut.

Sisampek adalah terbuat dari rangka bambu atau batang pisang yang dihiasi dengan bunga-bunga yang ditusuk dengan lidi daun kelapa yang diselipkan dengan kue-kue dan penganan kecil. Bermacam model sisampek dibuat, ada yang berbentuk kapal, pesawat terbang dan lain-lain.

Setelah rentetan acara selesai maka sang dukun bayi pulang dengan membawa 1 rantang makanan, ayam toge dan karambial satali.

DSC03781 copyDemikian sedikit informasi tentang prosesi turun mandi ini yang penulis sampaikan, sumber informasi ini penulis dapatkan langsung dari dukun bayi yang kebetulan melaksanakan acara turun mandi ini terhadap anak penulis sendiri. Semoga dapat menambah pengetahuan para pembaca terhadap kebudayaan asli daerah Pangean ini, terima kasih. oeh: Junedi

READ MORE - Budaya Kuansing:Tradisi Turun Mandi Untuk Bayi Baru Lahir

Pacu Jalur di Kab Kuantan Singingi (Kuansing)

clip_image001

Pacu Jalur di Kab Kuansing Even Wisata Budaya yang Sudah GO Nasional

Pacu Jalur adalah salah satu Even Wisata Kebanggaan Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Kuantan Singingi. Ada yang mengatakan Pacu Jalur ini sama dengan dengan Even Wisata Dayung Perahu Naga. Itu salah besar. Kalau miriup mungkin iya. Karena Pacu Jalur mempunyai keunikan tersendiri. Dimulai dari mencari pohon besar untuk perahu, pembuatannya sampai kegelanggang pacu. Inilah daya tarik even wisata tradisional yang mendunia. Setiap even Pacu Jalur ini dihelat ada saja peserta dari luar negeri yang turut serta. Berikut ini paparan tentang Pacu Jalur, dimulai dari asal usul, pembuatan sampai ke tata cara perlombaanya.

Asal Usul dan Perkembangan

Kuantan Singingi adalah sebuah daerah yang secara administratif termasuk dalam Provinsi Riau. Daerahnya banyak memiliki sungai. Kondisi geografis yang demikian, pada gilirannya membuat sebagian besar masyarakatnya memerlukan jalur1 sebagai alat transportasi Kemudian, muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya. Selain itu, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri). Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Perkembangan selanjutnya (kurang lebih 100 tahun kemudian), jalur tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi dan simbol status sosial seseorang, tetapi diadu kecepatannya melalui sebuah lomba. Dan, lomba itu oleh masyarakat stempat disebut sebagai “Pacu Jajur”.

Pada awalnya pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Idul Fitri, atau Tahun Baru 1 Muharam. Ketika itu setiap perlombaan tidak selalu diikuti dengan pemberian hadiah. Artinya, ada kampung yang menyediakan hadiah dan ada yang tidak menyediakannya. Lomba yang tidak menyediakan hadiah diakhiri dengan acara makan bersama. Adapun jenis makanannya adalah makanan tradisional setempat, seperti: konji, godok, lopek, paniaran, lida kambing, dan buah golek. Sedangkan, lomba yang berhadiah, penyelenggara mesti menyediakan empat buah marewa2 yang ukurannya berbeda-beda. Juara I memperoleh ukuran yang besar dan juara IV memperoleh ukuran yang paling kecil. Namun, dewasa ini hadiah tidak lagi berupa marewa tetapi berupa hewan ternak (sapi, kerbau, atau kambing).

Ketika Belanda mulai memasuki daerah Riau (sekitar tahun 1905), tepatnya di kawasan yang sekarang menjadi Kota Teluk Kuantan, mereka memanfaatkan pacu jalur dalam merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Akibatnya, pacu jalur tidak lagi dirayakan pada hari-hari raya umat Islam. Penduduk Teluk Kuantan malah menganggap setiap perayaan HUT Ratu Wilhelmina itu sebagai datangnya tahun baru. Oleh karena itu, sampai saat ini masih ada yang menyebut kegiatan pacu jalur sebagai pacu tambaru. Kegiatan pacu jalur sempat terhenti di zaman Jepang. Namun, pada masa kemerdekaan pacu jalur diadakan kembali secara rutin untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia (17- Agustusan).

clip_image002

Pemain Pacu Jalur

Pacu jalur hanya dilakukan oleh para laki-laki yang berusia antara 15--40 tahun secara beregu. Setiap regu jumlah anggotanya antara 40--60 orang (bergantung dari ukuran jalur). Anggota sebuah jalur disebut anak pacu, terdiri atas: tukang kayu, tukang concang (komandan, pemberi aba-aba), tukang pinggang (juru mudi), tukang onjai (pemberi irama di bagian kemudi dengan cara menggoyang-goyangkan badan) dan tukang tari yang membantu tukang onjai memberi tekanan yang seimbang agar jalur berjungkat-jungkit secara teratur dan berirama. Selain pemain, dalam lomba pacu jalur juga ada wasit dan juri yang bertugas mengawasi jalannya perlombaan dan menetapkan pemenang.

Tempat Permainan Pacu Jalur

Pacu jalur biasanya dilakukan di Sungai Batang Kuantan. Sebagaimana telah dikatakan di atas, Sungai Batang Kuantan yang terletak antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir, telah digunakan sebagai jalur pelayaran jalur sejak awal abad ke-17. Dan, di sungai ini pulalah perlombaan pacu jalur pertama kali dilakukan. Sedangkan, arena lomba pacu jalur bentuknya mengikuti aliran Sungai Batang Kuantan, dengan panjang lintasan sekitar 1 km yang ditandai dengan tiga tiang pancang.

Peralatan Permainan Pacu Jalur

Peralatan permainan dalam pacu jalur, tentu saja adalah jalur yang dibuat dari batang kayu utuh, tanpa dibelah-belah, dipotong-potong atau disambung-sambung. Panjang jalur antara 25--30 meter, dengan lebar ruang bagian tengah 11,25 meter. Bagian-bagian jalur terdiri atas: (1) luan (haluan); (2) talingo (telinga depan); (3) panggar (tempat duduk); (4) pornik (lambung); (5) ruang timbo (tempat menimba air); (6) talingo belakang; (7) kamudi (tempat pengemudi); (8) lambai-lambai/selembayung (pegangan tukan onjor); (9) pandaro (bibit jalur); (10) ular-ular (tempat duduk pedayung); (11) selembayung (ujung jalur berukir); dan (13) panimbo (gayung air). Jalur dilengkapi pula dengan sebuah dayung untuk setiap pemain.

Bagian selembayung dan pinggir badan jalur biasanya berukir dan diberi warna semarak. Motifnya bermacam-macam seperti: sulur-suluran, geometris, ombak, buruk dan bahkan pesawat terbang. Tiap-tiap jalur mempunyai nama seperti: Naga Sakti, Gajah Tunggal, Rawang Udang, Kompe Berangin, Bomber, Pelita, Orde Baru, Raja Kinantan, Kibasan Nago Liar, Singa Kuantan Sungai Pinang, Dayung Serentak, Keramat Jati, Panggogar Alam, Tuah di Kampuang Godang di Rantau, Ratu Dewa dan lain-lain. Tujuan dari pengukiran, pewarnaan dan pemberian nama pada setiap jalur tersebut adalah agar dapat “tampil beda” dari yang lain.

Untuk dapat membuat sebuah jalur-lomba yang biasanya mewakili desa, kecamatan atau kabupaten, harus melalui proses yang cukup panjang dan melibatkan banyak orang. Sebagai suatu proses, tentunya pembuatan jalur dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Berikut ini adalah tahap-tahap yang mesti dilakukan dalam pembuatan sebuah perahu yang oleh orang Kuantan Singingi disebut jalur.

Hal pertama yang dilakukan adalah menyusun rencana pembuatan jalur melalui musyawarah atau rapek kampung yang dihadiri oleh berbagai unsur seperti pemuka adat, cendekiawan, kaum ibu dan pemuda. Rapat ini biasanya dipimpin oleh seorang pemuka desa atau pemuka adat. Bila kesepakatan telah dicapai, maka kegiatan selanjutnya adalah memilih jenis kayu. Pohon yang dicari adalah banio atau kulim kuyiang yang panjangnya antara 25--30 meter dengan garis tengah antara 1½ --2 meter. Kedua jenis pohon tersebut disamping kuat, tahan air, juga dipercayai ada “penunggunya”. Setelah pohon yang memenuhi persyaratan ditentukan, maka penebangan pun dilakukan. Akan tetapi, sebelumnya diadakan semacam upacara persembahan kepada “penunggu” pohon agar pohon itu tidak hilang secara gaib.

Kayu yang sudah disemah oleh pawang, selanjutnya ditebang dengan kapak dan beliung. Setelah itu, kayu diabung (dipotong) ujungnya menurut ukuran tertentu sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat. Setelah diabung kedua ujungnya, kemudian kayu dikupas kulitnya dan diukir pada bagian haluan, telinga, dan lambung. Apabila jalur sudah terbentuk, maka langkah berikutnya adalah meratakan bagian depan (pendadan), yakni bagian atas kayu yang memanjang dari pangkal sampai ke ujung. Kemudian disusul dengan tahap mencaruk atau melubangi dan menghaluskan bagian dalam kayu dengan ketebalan tertentu.

Selanjutnya menggaliak atau membalikkan dan menelungkupkan kembali jalur untuk dibentuk dan dihaluskan. Pekerjaan ini memerlukan perhitungan cermat sebab harus selalu menjaga ketebalan jalur agar dapat seimbang ketika berada di air. Cara mengukurnya antara lain dengan membuat lubang-lubang kakok atau bor yang kemudian ditutup lagi dengan semacam pasak. Setelah terbentuk, maka jalur dibalikkan kembali dan kemudian dilanjutkan dengan proses terakhir yaitu membuat haluan dan kemudi. Apabila haluan dan kemudi telah terbentuk, maka jalur akan dibawa ke kampung untuk diasapi dan disertai dengan upacara maelo jalur. Sebelum jalur diluncurkan ke sungai, ada suatu upacara lagi yang bertujuan agar jalur dapat berlayar dengan baik ketika sudah berada di air.

Aturan Permainan Pacu Jalur

Pacu jalur dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu: (1) pacu antarbanjar atau dusun; (2) pacu antardesa atau kelurahan; dan (3) pacu antarkecamatan yang ada di wilayah Kuantan Sengingi. Aturan dalam ketiga tingkatan perlombaan pacu jalur tersebut tergolong mudah, yaitu regu jalur yang dapat mencapai garis finish terlebih dahulu dari regu lain, dinyatakan sebagai pemenangnya. Pertandingan pacu jalur biasanya dilakukan dengan dua sistem yaitu: setengah kompetisi dan sistem gugur untuk menentukan pemenang pertama hingga keempat dan sepuluh besar.

clip_image003

Jalannya Permainan Pacu Jalur

Perlombaan, baik antardusun, antardesa, maupun antarkecamatan, diawali dengan membunyikan meriam. Meriam digunakan karena apabila memakai peluit tidak akan terdengar oleh peserta lomba, mengingat luasnya arena pacu dan banyaknya penonton yang menyaksikan perlombaan. Pada dentuman pertama jalur-jalur yang telah ditentukan urutannya akan berjejer di garis start dengan anggota setiap regu telah berada di dalam jalur. Pada dentuman kedua, mereka akan berada dalam posisi siap (berjaga-jaga) untuk mengayuh dayung. Dan, setelah wasit membunyikan meriam untuk yang ketika kalinya, maka setiap regu akan bergegas mendayung melalui jalur lintasan yang telah ditentukan. Sebagai catatan, ukuran dan kapasitas jalur serta jumlah anak pacunya (peserta) dalam lomba ini tidak dipersoalkan, karena ada anggapan bahwa penentu kemenangan sebuah jalur lebih banyak ditentukan dari kekuatan magis yang ada pada kayu yang dijadikan jalur dan kekuatan kesaktian sang pawang dalam “mengendalikan” jalur.

Dalam pertandingan jalur, apabila menerapkan sistem gugur, maka peserta yang kalah tidak boleh turut bermain kembali. Sedangkan para pemenangnya akan diadu kembali untuk mendapatkan pemenang utama. Namun apabila menggunakan sistem setengah kompetisi, setiap regu akan bermain beberapa kali dan pada akhirnya regu yang selalu menang hingga perlombaan terakhir akan menjadi juaranya.

Nilai Budaya Pacu Jalur

Nilai budaya yang terkandung dalam pacu jalur adalah: kerja keras, ketangkasan, keuletan, kerja sama dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar jalurnya dapat mendahului jalur regu lain. Nilai ketangkasan dan keuletan tercermin dari teknik-teknik yang dilakukan oleh anggota sebuah regu dalam menjalankan jalur agar dapat melaju dengan cepat dan tidak tenggelam. Nilai kerja sama tercermin dari anggota regu yang berusaha bersama-sama mengendalikan jalur agar dapat melaju cepat dan memenangkan perlombaan. Nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Dierktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Hkasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
1 Jalur adalah sebuah perahu yang pada awal abad ke-17 digunakan sebagai alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan yang berada di sepanjang Sungai Batang Kuantan (antara Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu dan Kecamatan Cerenti di hilir). Ketika itu transportasi darat belum berkembang, sehingga jalur merupakan alat angkut penting bagi warga desa, terutama untuk mengangkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu. Selain itu, juga untuk mengangkut manusia (sekitar 40 orang).
2 Marewa adalah bendera kain berwarna-warni yang berbentuk segi tiga dan bagian tepinya direnda.Tulisan ini sudah pernah rilis di
www.sungaikuantan.com

READ MORE - Pacu Jalur di Kab Kuantan Singingi (Kuansing)

Kontroversi Lagu Kebangsaan Malaysia

Jakarta - Lagu 'Terang Bulan' yang konon dijiplak untuk lagu kebangsaan Malaysia, 'Negaraku' ternyata juga saduran dari lagu karangan musisi Prancis Pierre-Jean de Béranger. Dengan begitu, Malaysia tidak bisa disalahkan oleh Indonesia.

"Lagu itu bukan punya kita, kali ini Malaysia nggak bisa disalahkan," kata pengamat musik senior Remy Silado saat berbincang dengan detikcom, Senin (31/8/2009).

Menurut Remy, lagu ciptaan Béranger yang awalnya berbahasa Prancis itu disadur dalam bahasa Indonesia dengan judul 'Terang Bulan'. Lagu itu, kemudian sangat populer sehingga menjadi 'lagu rakyat'.

"Itu anak-anak sudah nyanyi puluhan tahun yang lalu," kata Remy.
Remy mengatakan, jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli waris pencipta pastilah berbohong. "Nggak mungkin itu ciptaan Syamsul Bachri, orang lagu itu sudah ada sejak abad 19," ujarnya.

Lalu menurut Remy, lagu tersebut diminta Malaysia untuk dijadikan lagu kebangsaan pada tahun 1957. Diminta dengan royalti tertentu? "Enggak, ya diminta saja wong penciptanya sudah meninggal," ujar Remy.

Namun Remy tidak menjelaskan kepada siapa Malaysia meminta lagu tersebut. Termasuk juga bagaimana proses peralihan lagu tersebut berlangsung.


Remy hanya mengimbau agar pihak yang mengaku-aku sebagai ahli waris dari pencipta lagu tersebut sebaiknya berhati-hati dalam bertindak. "Katanya kan mau menuntut segala macam, itu malu-maluin. Orang bukan punya kita," kata Remy.


Sebelumnya, anak Syamsul Bachri, Aden Bachri mengklaim, lagu terang bulan adalah karya ayahnya. Saat ini, Aden tengah berusaha mengumpulkan bukti-bukti yang dapat mendukung pernyataannya itu.

Sumber:www.detiknews.com

READ MORE - Kontroversi Lagu Kebangsaan Malaysia

Lebih Kenal dan Tenar Lagu Terang Bulan atau Negaraku ???

remydalam

Buku berjudul 'Het Nationale Volkslied' (Lagu rakyat bangsa-bangsa) tertulis lagu kebangsaan Malaysia 'Negaraku' diadopsi secara murni dari lagu karya musisi Prancis, Pierre Jean De Beranger. Ternyata lagu karya De Beranger lebih dikenal dunia setelah menjadi 'Negaraku' ketimbang saat disadur menjadi lagu 'Terang Bulan'.

"Jadi karya De Beranger lebih dikenal masyarakat dunia saat menjadi lagu kebangsaan Malaysia 'Negaraku' ketimbang 'Terang Bulan'," kata seniman musik senior Remy Silado saat ditemui detikcom di rumahnya, Jl Cipinang Muara III, Jakarta Timur, Selasa (1/9/2009).

Hasil penelusuran detikcom, buku setebal 554 halaman tersebut, menuliskan secara tegas lagu 'Negaraku' merupakan hasil saduran lagu karya De Beranger. Pihak Malaysia juga telah terang-terangan mengakui penyaduran itu.
"Nah, awalnya lagu itu tidak terlalu dikenal dunia, tapi setelah 'Negaraku' menjadi lagu Malaysia, orang baru mengenali itu karya De Branger," imbuh penulis novel Paris Pan Java ini.

Remy meyakini, keterangan dalam buku terbitan A.W Bruna Uitgevees BV Utrecht tersebut, sangat valid. Hal ini didasarkan bukti otentik hasil penelurusan dari lembaga penerbit.

"Penerbit buku ini lengkap menyertakan lampiran partitur berdasarkan arsip arsip di Eropa," jelasnya.

Remy menjelaskan, ia tidak mengetahui secara jelas apa judul karya De Beranger yang kemudian disadur dalam bahasa Indonesia dengan judul 'Terang Bulan'. Lagu itu, kemudian sangat populer sehingga menjadi 'lagu rakyat'.

"Itu anak-anak sudah nyanyi puluhan tahun yang lalu," kata Remy.
Remy mengatakan, jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli waris pencipta pastilah berbohong. "Nggak mungkin itu ciptaan Syamsul Bachri, orang lagu itu sudah ada sejak abad 19. Syamsul itu hanya petugas RRI saja bukan pencipta lagu," tandasnya.

Sebelumnya, anak Syamsul Bachri, Aden Bachri mengklaim, lagu terang bulan adalah karya ayahnya. Saat ini, Aden tengah berusaha mengumpulkan bukti bukti yang dapat mendukung pernyataannya itu.

Sumber:Detik.Com

READ MORE - Lebih Kenal dan Tenar Lagu Terang Bulan atau Negaraku ???

Lirik Lagu Terang Bulan dan Lagu Negaraku Malaysia

Lirik Lagu Terang Bulan dan Lagu Negaraku Malaysia...Silahkan Nikmati dan dengarkan...apakah ada perbedaan atau tidak!!! Ayo Jaga Seni Budaya Indonesia!!! Semoga Bermnafaat!!!

altMaubaca.com.- Setelah Malaysia mengklaim tari Pendet sebagai kebudayaannya kini, Malaysia harus membela diri dengan lagu kebangsaannya yang hampir sama dengan lagu terang bulan ciptaan bangsa Indonesia.
Lagu terang bulan sejak tahun 1940 sudah populer di Indonesia dan digunakan oleh Malaysia tahun 1950 sebagai lagu resmi kebangsaan.

Lagu Negaraku juga iramanya sama dengan lagu Mamula Moon dari Hawai. Belum diketahui secara jelas apakah lagu Mamula Moon atau Terang Bulan yang pertama lahir.
Berikut Lirik lagu terang bulan:

Terang bulan
Terang bulan di kali
Buaya timbul disangkalah mati
Jangan percaya mulutlah lelaki
Berani sumpah 'tapi takut mati
Jangan percaya mulutlah lelaki
Berani sumpah 'tapi takut mati
Waktu potong padi di tengah sawah
Sambil bernyanyi riuh rendah
Memotong padi semua orang
Sedari pagi sampai petang
Waktu potong padi di tengah sawah
Sambil bernyanyi riuh rendah
Bersenang hati sambil bersuka
Tolonglah kami bersama sama


Bandingkan dengan lirik lagu kebangsaan Malaysia "Negaraku".


Negaraku
Tanah tumpahnya darahku,
Rakyat hidup
bersatu dan maju,
Rahmat bahagia
Tuhan kurniakan,
Raja kita
selamat bertakhta,
Rahmat bahagia
Tuhan kurniakan.
Raja kita
selamat bertakhta


Agar jelasnya silakan dengarkan ketiga rekaman lagu tersebut yakni terang bulan, Mamula Moon dan Negaraku.

Sumber:http://maubaca.com

READ MORE - Lirik Lagu Terang Bulan dan Lagu Negaraku Malaysia

Lagu Kebangsaan Malaysia Mirip Lagu Terang Bulan

IndonesianFlag

Lagi-lagi Kebudayaan Indonesia terungkap. Lagu Terang Bulan dari Indonesia ternyata digunakan untuk Lagu Kebangsaan Malaysia.

Malaysia ternyata telah sejak lama mengambil hasil karya seni dan budaya bangsa Indonesia. Bahkan, sejak 1940-an. Salah satu contoh, lagu Kebangsaan Malaysia, Negaraku. Lagu ini memiliki kemiripan dengan lagu Indonesia berjudul Terang Bulan.

Perbedaan kedua lagu hanya pada syair. Sedangkan nadanya sama persis. Lagu Terang Bulan direkam pada 1956 di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Pada 1965, lagu itu direkam dan disimpan di perusahaan rekaman negara Lokananta, Solo, Jawa Tengah. Sebelumnya, Terang Bulan telah populer dan dinyanyikan sebagian besar masyarakat Indonesia di Sumatra.

Presiden pertama Indonesia, Soekarno saat itu sempat mengimbau bangsa Indonesia tak menyanyikan lagi lagu Terang Bulan. Pasalnya, nada lagu itu telah diambil untuk lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku

Bila dianalisis dari notasi musiknya antara Lagu Terang Bulan dan Lagu Negaraku dari Malaysia hanya memiliki perbedaan dari syair saja, sedangkan notasi melodi tidak ada perbedaan. Klik disini bila ingin mendengarkan lagunya Terang Bulan dan Negaraku.

Sumber:http://www.metrotvnews.com

READ MORE - Lagu Kebangsaan Malaysia Mirip Lagu Terang Bulan

Lagu Indonesia Raya di Lecehkan!!!

IndonesianFlag

Benar-benar sudah mengobarkan semangat diri ini untuk membela Negara Tercinta ini dengan adanya pelecehan dari Salah Seorang Warga Malaysia. Dari Budaya, Wilayah, Makanan sudah diklaim Malaysia.

Mana Jiwa Nasionalisme mu sobat-sobat. Selamatkan Budaya, Wilayah yang telah klaim Malaysia.

Pelecehan dari salah seorang warga Malaysia terhadap Bangsa Indonesia ini yaitu Lagu Indonesia Raya diplesetkan dalam sebuah forum online, dengan kata – kata yang sangat menghina Bangsa ini. Berikut pelecehan itu :

Indonesial National Anthem
Indonesial tanah Cairku
Tanah tumpah muntahku
Disanalah aku merangkak hina
Jadi kubur


Indonesial negara miskin ku
Bangsa Busuk dan Tanah Miskinku
Marilah kita semua tidur
Indonesial negara miskinku


Mati lah tanahku
Modar lah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Miskin lah jiwanya
Tidurlah badannya
Untuk Indonesial Miskin


Indonesial Miskin
Mampous Modar
Datang kerja Malaysia
Tapi TKI Jadi perampok Rompak Malaysia bawa wang ke Indon


Indonesial Pendatang Haram
Miskin lah Miskin lah
Datang Haram ke Malaysia
Tiada paspor
Bila kena tangkap dan hantar balik
Kata nya malaysia jahat


Indonesial Negara Perampok
Indonesial Menghantar perampok maling
pekerja TKI Indonesial
hantaq pi Malaysia


Indonesial Maling
Merampok lagu Malaysia
Mengatakan itu lagu mereka


Indonesial Tanah yang hina
Tanah gersang yang miskin
Di sanalah aku miskin Untuk slama-lamanya
Indonesial Tanah puaka
Puaka Hantu Kita semuanya
Negara luas hasil bumi banyak tapi miskin
Datang minta sedekah di Malaysia
Marilah kita mendoa Indonesial brengset


Gersang lah Tanahnya mundurlah jiwanya
Bangsanya Rakyatnya semuanya
Tidurlah hatinya Mimpilah budinya
Untuk Indonesial Miskin


Indonesial Tanah yang kotor Tanah kita yang Malang
Disanalah aku tidur selamanya bermimpi sampai mati
Indonesial! Tanah Malang Tanah yang aku sendiri benci
Marilah kita berjanji Indonesial miskin


Mati lah Rakyatnya Modar lah putranya
Negara Miskin Tentera Coma pakai Basikal
Miskinlah Negrinya Mundur lah Negara nya
Untuk Indonesial kurap.

Pelecehan yang dilakukan Salah seorang Warga Malaysia mengobarkan semngat diri ini untuk membela Negara Indonesia. Berita yang ada seperti klik Indonesia Harus Ultimatum Malaysia. Saya mendapat syair pelecehan Indonesia Raya di sini.

Dibulan Ramadhan ini mari kita jaga persatuan dan semangat membela untuk Negara Indonesia Tercinta ini. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan Bagi Negara Indonesia.

Mari saling Intropeksi Diri dan Saling Memaafkan. Kita ini adalah bersaudara dan satu rumpun ayo saling memberikan kontribusi yang bermanfaat. Jangan lagi saling menyalahkan dan tetap kembalikan masalah yang rumit kepada Allah SWT. Allahu Akbar

READ MORE - Lagu Indonesia Raya di Lecehkan!!!

Budaya Orang Indonesia Menurut Orang Jepang

Prof Nagano, staf pengajar Nihon University memberikan kuliah intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima University. Beliau sering menjadi konsultan pertanian di negara-negara Asia termasuk Indonesia. Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau utarakan sewaktu membahas tentang Indonesia:

1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam. Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya program tersebut sebetulnya baik.

2. Budaya Jam Karet Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang asing yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab : Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah sebegitu parahkah disiplin kita?

3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?) Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.

4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari lengkap padahal beliau sudah datang dengan work wear beserta sepatu boot. Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke lapang, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau turun langsung ke lapangan. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita sudah terlalu sering dinina-bobokan oleh istilah indonesia kaya,masyarakatnya suka gotong royong, ada pancasila,agamanya kuat, dan lain-lain.Dan itu hanyalah istilah, kenyataannya bisa kita lihat sendiri. Ternyata negarakita hancur-hancuran, bahkan susah untuk recovery lagi, mana sifat gotong royong yang membuat negara seperti Korea, bisa bangkit kembali. Kita selalu senang dengan istilah tanpa action. Kita terlalu banyak diskusi,saling lontar ide, kritik, akhirnya waktu terbuang percuma tanpa action. Karena belum apa-apa sudah ramai duluan. Kapan kita akan sadar dan intropeksi akan kekurangan-kekurangan kita dan tidak selalu menjelek-jelekkan orang lain? Selama itu belum terjawab kita akan terus seperti ini, menjadi negara yang katanya sudah mencapai titik minimal untuk disebut negara beradab dan tetap terbelakang disegala bidang.

Mudah-mudahan pernyataan beliau menjadi peringatan bagi kita semua, terutama saya pribadi agar bisa lebih banyak belajar dan mampu merubah diri untuk menjadi yang lebih baik. Tak hanya penampilan elegan. seorang profesional juga harus punya kemampuan bicara yang baik. setiap orang punya kemampuan itu, asalkan ia mau belajar. Bagaimana cara melatihnya? Seorang profesional tidak hanya dilihat dari penampilan luarnya saja, tetapi juga dari tutur bahasa. Seringkali kita melihat cara bicara seseorang yang tidak menunjukkan dirinya seorang profesional. Apa yang perlu diperhatikan seorang profesional dalam bertutur kata? (Berbagai Sumber) Ronaldo Rozalino

READ MORE - Budaya Orang Indonesia Menurut Orang Jepang